Judul Buku : Change
Penulis : Rheinald Kasali Bab 4 Teori-teori Korporat
Setidaknya ada delapan teori yang akan dibahas dalam bab ini. Kedelapan teori tersebut antara lain :
1. Teori Force Field dari Kurt Lewin (1951)
2. Teori Motivasi dari Beckhard & Harris (1987)
3. Teori Proses Perubahan Manajerial (General Manager Led Procces Model) dari
Beer et. Al. (1990)
4. Teori-teori OD (Oraganization Development) dalam Perubahan
5. Teori Perubahan Alfa, Beta, dan Gamma
6. Teori Contigency dalam Manajemen Perubahan dan Tannenbaum & Schmidt (1973)
7. Teori-teori Manajemen Kerja Sama
8. Teori-teori untuk Mengatasi Resistensi dalam Perubahan
9. Model Accounting Turnaround dari Harlan D. Platt (1998)
TEORI FORCE FIELD DARI KURT LEWIN (1951)
Menurut Kurt Lewin, perubahan terjadi karena munculnya tekanan-tekana terhadap organisasi, individu, atau kelompok. Jadi, ia memfokuskan pada pernyataan “mengapa”, yaitu mengaopa individu-individu, kelompok, atau organisasi berubah. Dari situ ia mencari tahu bagaimana perubahan dapat dikelola dan menghasilkan sesuatu. Lewin berkesimpulan bahwa kekuatan tekanan (driving forces) akan berhadapan dengan keengganan (resistances) untuk berubah. Perubahan itu sendiri dapat terjadi dengan memperkuat “driving forces” itu, atau melemahkan “resistances to change”.
Dari situlah Lewin merumuskan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengelola perubahan, yaitu unfreezing, changing, refreezing. Unfreezing merupakan suatu proses penyadaran tentang perlunya atau adanya kebutuhan untuk berubah. Changing merupakan langkah yang berupa tindakan, baik memperkuat “driving forces” maupun memperlemah resistances”. Refreezing merupakan upaya membawa kembali organisasi kepada keseimbangan yang baru (a new dynamic equilibrium).
TEORI MOTIVASI DARI BECKHARD DAN HARRIS
Beckhard dan Harris (1987) merumuskan teori-teori motivasi untuk berubah. Mereka menyimpulkan bahwa perubahan akan terjadi jika ada sejumlah syarat yaitu :
1. Manfaat biaya, manfaat yang diperoleh harus lebih besar dari biaya perubahan.
2. Ketidakpuasan, adanya ketidakpuasan yang menonjol terhadap keadaan sekarang.
3. Persepsi hari esok, manusia dalam suatu organisasi melihat hari esok yang
dipersepsikan menjadi lebih baik.
4. Cara yang praktis, ada cara yang praktis yang dapat ditempuh untuk keluar
dari situasi yang sekarang.
Beckhard dan Harris juga menganjurkan agar sebaiknya fokus kita ke depan daripada berbicara tentang masa lalu yang telah memberikan dampak negatif pada hari ini. Hal ini disebabkan oleh temuan-temuan yang menyebutkan bahwa fokus terhadap hari esok :
1. Menberikan semangat (optimisme) dan membuang perasaan-perasaan pesimis
2. Mendorong orang-orang menentukan perannya dalam perubahan, dan menciptakan
kepatuhan
3. Mengurangi ketidakpuasan dan perasaan-perasaan tidak nyaman
4. Memberikan fokus perhatian pada upaya-upaya mengatasi masalah daripada
symptom-symptom untuk membuat kegiatan dan organisasi bekerja secara efektif.
Meski teori ini dianggap lebih sempurna daripada teori Kurt & Lewin dan banyak mempengaruhi para penulis terkenal, disadari adanya kelemahan-kelemahan. Salah satunya adalah tidak mudah mengajak orang-orang percaya terhadap apa yang mereka lihat dan mengajak mereka melihat atau berpersepsi tentang hari esok.
TEORI PROSES PERUBAHAN MANAJERIAL DARI BEER et. Al (1990)
Beer et al (1990) lewat studinya menemukan pentingnya melibatkan sedemikian banyak orang dalam perubahan. Menurut teori ini, untuk menghasilkan perubahan secara manajerial perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Memobilisasi energi para stakeholders untuk mendukung perubahan.
2. Mengembangkan visi serta strategi untuk mengelola dan menghasilkan daya
saing yang positif.
3. Mengupayakan konsensus terhadap visi baru sehingga visi tersebut diterima
sebagai kebenaran dan dikerjakan tanpa pertentangan.
4. Memperluas revitalisasi pada seluruh departemen dalam organisasi.
5. Mengkonsolidasi perubahan melalui kebijakan-kebijakan strategi yang
diformulasikan, struktur, sistem, dan lain-lain.
6. Memantau (monitor) terus kegiatan. Selalu member respon terhadap umpan balik
dan masalah-masalah yang direncanakan akan muncul.
TEORI-TEORI OD DALAM PERUBAHAN ORGANISASI
Pendekatan OD (Organization Development) menyentuh dua kategori yang saling berinteraksi, yaitu manusia dan teknologi. Manusia adalah komponen yang melakukan proses organisasi seperti komunikasi, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah. Sedangkan teknologi mempengaruhi struktur-struktur organisasi seperti desain pekerjaan (job design), task method, dan desain organisasi.
Menurut teori ini, intervensi pada kedua kategori ini menghasilkan pemenuhan kebutuhan manusia dan penyelesaian tugas. Interaksi tersebut terjadi apda pendekatan tekno-struktur dan manusia-proses. Melalui studi ini, kedua peneliti berkesimpulann bahwa pendekatan (intervensi) pada tekno-struktur memberikan dampak yang lebih jelas (terlihat daripada domain manusia-proses yang cebderung lebih abstrak.
TEORI PERUBAHAN ALFA, BETA, DAN GAMMA
Perubahan alfa adalah perubahan kepercayaan (trust) yang terjadi antara suatu dimensi waktu yang stabil sebelum dan setelah team-building dilakukan. Perubahan beta adalah perubahan yang terjadi dalam cara menilai trust. Perubahan berikutnya adalah perubahan gamma, yaitu perubahan yang terjadi karena manusia atau kelompok melihat adanya faktor atau variabel lain yang lebih penting dari yang sekedar diteliti.
TEORI CONTIGENCY DALAM MANAJEMEN PERUBAHAN DARI TANNENBAUM DAN SCHMIDT (1973)
Keberhasilan menerapkan manajemen perubahan antara lain sangat ditentukan oleh gaya(style) yang diadopsi manajemen. Teori ini berpendapat tingkat keberhasilan pengmbilan keputusan sangat ditentukan oleh sejumlah gaya yang dianut dalam mengelola perubahan. Gaya/cara yang dimaksud lebih menyangkut pengambilan keputusan dan implementasi. Seseorang dapat melakoni gaya kepemimpinan dalam suatu horizon mulai dari yang sangat otokratik hingga partisipatif.
Dengan demikian, maka menurut teori ini tidak selalu komotmen dan partisipasi bawahan diperlukan. Semua ini memerlukan analisis dan diagnosis mengenai kesiapan kedua belah pihak, yaitu atasan dan bawahan, baik sikap mental, motivasi, maupun kompetensinya.
TEORI KERJA SAMA
Perubahan biasanya tidak bisa berjalan tanpa adanya kerja sama sdari semua pihak.Teori kerja sama menjelaskan mengapa manuasi mau bekerja sama dan bagaimana memperoleh kerja sama. Ada beberapa penjelasan mengapa manusia mau melakukan kerja sama (Williams & Dobson, 2002) :
1. Motivasi memperoleh rewards atau khawatir akan mendapatkan punishment.
2. Motivasi kesetiaan terhadap profesi, pekerjaan, atau perusahaan.
3. Motivasi moral, karena dengan bekerja sama dapat diterima secara moral.
4. Motivasi menjalankan keahlian
5. Motivasi karena sesuai dengan sikap hidup
6. Motivasi kepatuhan terhadap kekuasaan
TEORI-TEORI UNTUK MENGATASI RESISTENSI DALAM PERUBAHAN
Kooter & Schlesinger (1979) memperkrnalkan teori untuk mengatasi keengganan (resistensi) dalam perubahan. Keduanya memperkenalkan enam strategi untuk mengatasi resistensi itu, yaitu komunikasi, partisipasi, fasilitasi, negosiasi, manipulasi, dan paksaan. Menurut teori ini, teknik yang berbeda-beda perlu diterapkan untuk kelompok yang berbeda-beda, tergantung pada tingkat resistensi masing-masing kelompok.
TEORI ACCOUNTING-TURNAROUND DARI HARLAN PLATT (1998)
Model yang diperkenalkan oleh Platt (1998) sangat kental dengan warna-warni akuntansi dan hokum. Baginya, tidak semua korporat dapat diselamatkan atau diubah Untuk diubah, sebuah korporat harus memiliki sejumlah syarat seperti dukungan dari para stakeholder, masih ada core business yang mampu mendatangkan cashflow, adanya team manajemen yang solid, dan sumber-sumber pembiayaan, khususnya sumber-sumber pembiayaan jangka panjang.
Perubahan ini disebut turnaround maksudnya putar haluan yang dilakukan oleh perusahaan yang sedang mengalami penurunan akibat kerugian selama beberapa kali berturut-turut atau salah urus. Langkah turnaround dimulai dengan reorganisasi, dilakukan bila nilai perusahaan (enterprise value) masih lebih besar dari nilai likuidasinya (liquidation value).
Platt (1998) membedakan strategi perubahan ke dalam tiga kelompok, yaitu transformasi korporat, turnaround dan manajemen krisis. Ketiga strategi itu dijalankan menurut kondisi yang berbeda-beda pada keadaan perusahaan yang sedang menurun. Platt juga membedakan strategic turnaround dengan operating turnaround. Strategic turnaround dilakukan untuk mengubah strategi untuk bersaing dalam bisnis yang sama (meningkatkan pangsa pasar) atau memasuki dunia bisnis baru. Sedanglan operating turnaround berhubungan dengan upaya-upaya peningkatan revenue, penrurnan biaya atau pengurangan harta-harta.
Kontribusi kelompok ini dianggap penting karena memberikan pegangan kuantitatif terhadap situasi yang dihadapi ketika perusahaan sedang menurun. Sedangkan ilmu manajemen secara umum hanya memberilkan petunjuk bagaimana cara mengelola ketika perusahaan sedang mengalami pertumbuhan atau dalam tahap pengembangan.
Menurut Kurt Lewin, perubahan terjadi karena munculnya tekanan-tekana terhadap organisasi, individu, atau kelompok. Jadi, ia memfokuskan pada pernyataan “mengapa”, yaitu mengaopa individu-individu, kelompok, atau organisasi berubah. Dari situ ia mencari tahu bagaimana perubahan dapat dikelola dan menghasilkan sesuatu. Lewin berkesimpulan bahwa kekuatan tekanan (driving forces) akan berhadapan dengan keengganan (resistances) untuk berubah. Perubahan itu sendiri dapat terjadi dengan memperkuat “driving forces” itu, atau melemahkan “resistances to change”.
Dari situlah Lewin merumuskan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengelola perubahan, yaitu unfreezing, changing, refreezing. Unfreezing merupakan suatu proses penyadaran tentang perlunya atau adanya kebutuhan untuk berubah. Changing merupakan langkah yang berupa tindakan, baik memperkuat “driving forces” maupun memperlemah resistances”. Refreezing merupakan upaya membawa kembali organisasi kepada keseimbangan yang baru (a new dynamic equilibrium).
TEORI MOTIVASI DARI BECKHARD DAN HARRIS
Beckhard dan Harris (1987) merumuskan teori-teori motivasi untuk berubah. Mereka menyimpulkan bahwa perubahan akan terjadi jika ada sejumlah syarat yaitu :
1. Manfaat biaya, manfaat yang diperoleh harus lebih besar dari biaya perubahan.
2. Ketidakpuasan, adanya ketidakpuasan yang menonjol terhadap keadaan sekarang.
3. Persepsi hari esok, manusia dalam suatu organisasi melihat hari esok yang
dipersepsikan menjadi lebih baik.
4. Cara yang praktis, ada cara yang praktis yang dapat ditempuh untuk keluar dari
situasi yang sekarang.
Beckhard dan Harris juga menganjurkan agar sebaiknya fokus kita ke depan daripada berbicara tentang masa lalu yang telah memberikan dampak negatif pada hari ini. Hal ini disebabkan oleh temuan-temuan yang menyebutkan bahwa fokus terhadap hari esok :
1. Menberikan semangat (optimisme) dan membuang perasaan-perasaan pesimis
2. Mendorong orang-orang menentukan perannya dalam perubahan, dan menciptakan
kepatuhan
3. Mengurangi ketidakpuasan dan perasaan-perasaan tidak nyaman
4. Memberikan fokus perhatian pada upaya-upaya mengatasi masalah daripada symptom-
symptom untuk membuat kegiatan dan organisasi bekerja secara efektif.
Meski teori ini dianggap lebih sempurna daripada teori Kurt & Lewin dan banyak mempengaruhi para penulis terkenal, disadari adanya kelemahan-kelemahan. Salah satunya adalah tidak mudah mengajak orang-orang percaya terhadap apa yang mereka lihat dan mengajak mereka melihat atau berpersepsi tentang hari esok.
TEORI PROSES PERUBAHAN MANAJERIAL DARI BEER et. Al (1990)
Beer et al (1990) lewat studinya menemukan pentingnya melibatkan sedemikian banyak orang dalam perubahan. Menurut teori ini, untuk menghasilkan perubahan secara manajerial perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Memobilisasi energi para stakeholders untuk mendukung perubahan.
2. Mengembangkan visi serta strategi untuk mengelola dan menghasilkan daya saing
yang positif.
3. Mengupayakan konsensus terhadap visi baru sehingga visi tersebut diterima
sebagai kebenaran dan dikerjakan tanpa pertentangan.
4. Memperluas revitalisasi pada seluruh departemen dalam organisasi.
5. Mengkonsolidasi perubahan melalui kebijakan-kebijakan strategi yang
diformulasikan, struktur, sistem, dan lain-lain.
6. Memantau (monitor) terus kegiatan. Selalu member respon terhadap umpan balik
dan masalah-masalah yang direncanakan akan muncul.
TEORI-TEORI OD DALAM PERUBAHAN ORGANISASI
Pendekatan OD (Organization Development) menyentuh dua kategori yang saling berinteraksi, yaitu manusia dan teknologi. Manusia adalah komponen yang melakukan proses organisasi seperti komunikasi, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah. Sedangkan teknologi mempengaruhi struktur-struktur organisasi seperti desain pekerjaan (job design), task method, dan desain organisasi.
Menurut teori ini, intervensi pada kedua kategori ini menghasilkan pemenuhan kebutuhan manusia dan penyelesaian tugas. Interaksi tersebut terjadi apda pendekatan tekno-struktur dan manusia-proses. Melalui studi ini, kedua peneliti berkesimpulann bahwa pendekatan (intervensi) pada tekno-struktur memberikan dampak yang lebih jelas (terlihat daripada domain manusia-proses yang cebderung lebih abstrak.
TEORI PERUBAHAN ALFA, BETA, DAN GAMMA
Perubahan alfa adalah perubahan kepercayaan (trust) yang terjadi antara suatu dimensi waktu yang stabil sebelum dan setelah team-building dilakukan. Perubahan beta adalah perubahan yang terjadi dalam cara menilai trust. Perubahan berikutnya adalah perubahan gamma, yaitu perubahan yang terjadi karena manusia atau kelompok melihat adanya faktor atau variabel lain yang lebih penting dari yang sekedar diteliti.
TEORI CONTIGENCY DALAM MANAJEMEN PERUBAHAN DARI TANNENBAUM DAN SCHMIDT (1973)
Keberhasilan menerapkan manajemen perubahan antara lain sangat ditentukan oleh gaya (style) yang diadopsi manajemen. Teori ini berpendapat tingkat keberhasilan pengmbilan keputusan sangat ditentukan oleh sejumlah gaya yang dianut dalam mengelola perubahan. Gaya/cara yang dimaksud lebih menyangkut pengambilan keputusan dan implementasi. Seseorang dapat melakoni gaya kepemimpinan dalam suatu horizon mulai dari yang sangat otokratik hingga partisipatif.
Dengan demikian, maka menurut teori ini tidak selalu komotmen dan partisipasi bawahan diperlukan. Semua ini memerlukan analisis dan diagnosis mengenai kesiapan kedua belah pihak, yaitu atasan dan bawahan, baik sikap mental, motivasi, maupun kompetensinya.
TEORI KERJA SAMA
Perubahan biasanya tidak bisa berjalan tanpa adanya kerja sama sdari semua pihak.Teori kerja sama menjelaskan mengapa manuasi mau bekerja sama dan bagaimana memperoleh kerja sama. Ada beberapa penjelasan mengapa manusia mau melakukan kerja sama (Williams & Dobson, 2002) :
1. Motivasi memperoleh rewards atau khawatir akan mendapatkan punishment.
2. Motivasi kesetiaan terhadap profesi, pekerjaan, atau perusahaan.
3. Motivasi moral, karena dengan bekerja sama dapat diterima secara moral.
4. Motivasi menjalankan keahlian
5. Motivasi karena sesuai dengan sikap hidup
6. Motivasi kepatuhan terhadap kekuasaan
TEORI-TEORI UNTUK MENGATASI RESISTENSI DALAM PERUBAHAN
Kooter & Schlesinger (1979) memperkrnalkan teori untuk mengatasi keengganan (resistensi) dalam perubahan. Keduanya memperkenalkan enam strategi untuk mengatasi resistensi itu, yaitu komunikasi, partisipasi, fasilitasi, negosiasi, manipulasi, dan paksaan. Menurut teori ini, teknik yang berbeda-beda perlu diterapkan untuk kelompok yang berbeda-beda, tergantung pada tingkat resistensi masing-masing kelompok.
TEORI ACCOUNTING-TURNAROUND DARI HARLAN PLATT (1998)
Model yang diperkenalkan oleh Platt (1998) sangat kental dengan warna-warni akuntansi dan hokum. Baginya, tidak semua korporat dapat diselamatkan atau diubah Untuk diubah, sebuah korporat harus memiliki sejumlah syarat seperti dukungan dari para stakeholder, masih ada core business yang mampu mendatangkan cashflow, adanya team manajemen yang solid, dan sumber-sumber pembiayaan, khususnya sumber-sumber pembiayaan jangka panjang.
Perubahan ini disebut turnaround maksudnya putar haluan yang dilakukan oleh perusahaan yang sedang mengalami penurunan akibat kerugian selama beberapa kali berturut-turut atau salah urus. Langkah turnaround dimulai dengan reorganisasi, dilakukan bila nilai perusahaan (enterprise value) masih lebih besar dari nilai likuidasinya (liquidation value).
Platt (1998) membedakan strategi perubahan ke dalam tiga kelompok, yaitu transformasi korporat, turnaround dan manajemen krisis. Ketiga strategi itu dijalankan menurut kondisi yang berbeda-beda pada keadaan perusahaan yang sedang menurun. Platt juga membedakan strategic turnaround dengan operating turnaround. Strategic turnaround dilakukan untuk mengubah strategi untuk bersaing dalam bisnis yang sama (meningkatkan pangsa pasar) atau memasuki dunia bisnis baru. Sedanglan operating turnaround berhubungan dengan upaya-upaya peningkatan revenue, penrurnan biaya atau pengurangan harta-harta.
Kontribusi kelompok ini dianggap penting karena memberikan pegangan kuantitatif terhadap situasi yang dihadapi ketika perusahaan sedang menurun. Sedangkan ilmu manajemen secara umum hanya memberilkan petunjuk bagaimana cara mengelola ketika perusahaan sedang mengalami pertumbuhan atau dalam tahap pengembangan.